Minggu, 06 Desember 2009

INDONESIA KREATIF


Keterbatasan, umumnya justru membuat orang terpicu untuk menjadi kreatif dan mampu menciptakan solusi yang hebat. Dengan segala kekurangannya, mereka mampu menghadirkan inovasi dan kreatifitas yang membuat orang lain menggeleng-geleng kagum.

Seorang tukang las asal Semarang bernama Kardi, yang mampu mendirikan “outdoor fitness center” di sebuah gang sempit bernama gang Buntu pada 1995. Melihat banyak orang di sekitar bengkel kerjanya tidak mempunyai kegiatan jelas untuk mengisi waktu senggangnya, sebuah ide unik muncul di benak Kardi. Ia berpikir keras membuat alat-alat kebugaran ala body builder seperti layaknya alat-alat di fitness center. Berbekal besi-besi sisa pesanan pagar pelanggannya, secara bertahap dibuatnya satu-persatu alat-alat tersebut. Ia juga mampu merancang desain alat-alat tersebut dengan baik dari sisi bentuk dan beban. Idenya ini disambut baik orang-orang di sekitarnya, yang kebanyakan adalah pekerja informal seperti pedagang pasar, supir becak, buruh pabrik atau bangunan dll. Alhasil, di sempitnya gang Buntu, kini terlihat pemandangan unik. Orang-orang berotot bak binaragawan serius berlatih membentuk badan dengan berbagai peralatan, dan jika ada kendaraan lewat mereka akan sigap menyingkirkan semuanya ke pinggir gang dan berlatih lagi seperti semula jika gang kembali lengang. Yang membuat kagum, sejumlah anggota outdoor fitness center yang mereka juluki Gorilla Power ini, mampu mendulang prestasi di sejumlah ajang kompetisi pamer otot di Semarang..

Dari desa Badegan Kabupaten Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta, muncul kisah unik tentang sebuah bank yang lain dari biasanya. Bank ini berkutat di urusan segala macam sampah, dan dinamai Bank Sampah Gemah Ripah. Bank sampah ini didirikan oleh seorang dosen, Bambang Suwerda, yang gelisah dengan ketidak pedulian orang di sekitarnya terhadap penanganan sampah. Budaya buang sampah di sembarang tempat yang mengganggu lingkungan, mencuatkan ide nyeleneh di pikirannya. Sistem perbankan konvensional diterapkannya pada gagasannya. Ia membuat sebuah bengkel daur ulang sampah pada tahun 2008, dan di depan bengkel itu dibuatnya konsep layaknya sebuah bank dan juga prosedur menabung sampah daur ulang dengan sederhana. Warga yang ingin menabung di bank sampah dibuatkan nomor rekening dan buku tabungan untuk memudahkan pengadministrasian. Struktur organisasi Bank Sampah pun lengkap mulai dari direktur, teller, sekretaris, bendahara, dan petugas-petugas kolektor sampah yang mengambil sampah di setiap RT. Kini, kesadaran masyarakat untuk mengelola sampah lebih tinggi dan lingkungan daerah di desa sekitar Bank Sampah jauh lebih bersih dan indah..

Dari desa Cihideung Udik Bogor, muncul kisah Mamad seorang wiraswasta UKM bidang pembuatan arang atau karbon aktif. Mamad yang sejak awal selalu lebih suka berwiraswasta daripada menjadi pegawai atau karyawan, selalu memikirkan dilema usahanya. Di satu sisi ia harus terus menghidupi keluarganya lewat usaha bengkel arangnya. Namun pada saat bersamaan, ia merasa bersalah dengan adanya polusi asap dari bengkel pembakaran batok kelapa miliknya, yang sangat banyak meruap ke sekitar dan mengganggu pemandangan di lingkungan desanya. Ia selalu berusaha mencari solusi untuk bisa “menangkapi” asap dari bengkelnya. Beberapa metode telah dicobanya, namun tak maksimal. Hingga akhirnya ia bertemu seorang dosen dari IPB, Rokhani, yang menawarinya teknologi kondensasi asap, atau konversi asap menjadi cairan atau asap cair. Mamad bersedia mendanai proyek percontohan dari Rokhani dan merelakan bengkelnya menjadi kelinci percobaan alat kondensor asap cair. Upayanya tak sia-sia. Kini asap yang keluar dari tungku pembakaran bengkelnya mampu ditekan menjadi sangat minimal. Dan ternyata ada bonus dari upayanya ini. Asap cair yang dihasilkannya, ternyata mampu dimanfaatkan untuk dijadikan bahan pengawet makanan, obat hama tanaman dan pupuk, penghilang bau pada sampah serta obat..

Sedangkan dari Magelang, ada sebuah TV komunitas yang didirikan sejumlah orang kreatif untuk menyiasati blank spot area di daerah itu dari siaran tv nasional pada tahun 2004. Grabag TV memberikan alternatif hiburan dan pendidikan bagi masyarakat di kecamatan Grabag. Grabag TV menampilkan acara-acara penerangan dan pengajaran tentang pertanian, perkebunan, pendidikan hingga kesehatan bagi warga. Selain itu, Grabag TV juga memproduksi program hiburan seperti pembuatan video klip campursari, ketoprak hingga sinetron. Para personel Grabag TV bekerja secara sukarela alias tanpa bayaran atau gaji sama sekali. Bahkan mereka harus rela merogoh kocek sendiri jika mau memproduksi program acara. Yang unik adalah latar belakang para personil Grabag TV. Kepala divisi pemberitaan atau hardnews Grabag TV adalah seorang guru SD. Sementara creative director untuk program hiburan adalah seorang sopir truk trayek Magelang – Surabaya..

Dan masih ada insan kreatif lainnya dari Jember Jawa Timur. Seorang Dynand Fariz, pendiri Jember Fashion Carnaval, telah mengharumkan nama Jember sebagai salah satu kota kreatif ke tingkat nasional, bahkan juga internasional. Parade peragaan busana di jalanan sepanjang 3,6 km yang diadakan rutin tiap bulan Agustus ini, bahkan telah mendapatkan penghargaan dari museum rekor/ MURI sebagai Catwalk Fashion Show terpanjang. Dan Dynand Fariz bersama tim JFC-nya juga pernah menggelar peragaan busana di London, Mumbay serta beberapa kota di luar negeri lainnya.

0 komentar:


Blogspot Template by Isnaini Dot Com. Powered by Blogger and Supported by Precious Metal